SMAN 1 dan SMAN 2 Ambon Finalis Debat Bahasa Inggris

SMAN 1 dan SMAN 2 Ambon Finalis Debat Bahasa Inggris

SMAN 1 dan SMAN 2 Ambon Finalis Debat Bahasa Inggris

English Festival 2015 yang diadakan pada SMA Negeri 1 Ambon Jumat-Sabtu

(30 – 31 Oktober 2015) terdiri dari tiga Kompetisi yaitu, kompetisi, Debate, Speech, Future Writing.

Setelah melalui tahapan yang panjang, team yang berhak masuk Semifinal untuk katogeri debat adalah SMA Negeri 1 (team C) yang diwakili Desthira H. Mahulete – Jeremy J. Tanaya dan SMA Negeri 1 (team A) Nabila Syafira – Agisna Y. Anjani, sementara SMA 2 (team A) yang diwakilo William Talla – Yoel Sipahelut, dan SMA 1 (team E) dengan Nadia Syafira – Maria A. Matakena.

Kompetisi berjalan seru ini mengantarkan SMA Negeri 2 (tim A), William Talla – Yoel Sipahelut serta SMA Negeri 1 (tim E), Nadia Syafira dan Maria A. Matakena maju berkompetisi sebagai peserta final Debate pada English Festival 2015.

Pengumuman pemenang dan sekaligus penyerahan hadiah berupa beasiswa pendidikan, s

ertifikat, uang tunai dan Trophy di lakukan dalam kegiatan UBM open Haouse yang diselenggarakan di Hotel Amaris Ambon, Sabtu (31/10).

Sementara itu, Juri debate Alvin Taufik SS, M.Hum Dosen Program Studi Bahasa dan Budaya Inggris UBM mengaku kaget dan kagum dengan perkembangan debat bahasa inggris anak-anak Maluku.

“Saya Terkejut karena begitu hebatnya perkembangan di dalam bidang debate bahasa inggris

apalagi ini baru tingkat SMA, apalagi waktu yang diberikan hanya 15 menit untuk memikirkan mosi yang benar-benar susah, mereka bisa melakukannya dengan baik,” ungkapnya.

Menurut Dosen Program Studi Bahasa dan Budaya Inggris UBM ini, Bukannya kompetisi ini hebat tetapi siswa sudah berpengalaman dan berbakat.

Magdalena Kartikasari Tandy Rerung SS, M.Hum Dosen Program Studi Bahasa dan Budaya Inggris UBM juga hadir sebagai juri juga mengaku kagum dan merasa terhormat menyaksikan dan menilai puta-putri maluku dalam ajang Festival debate.

“Saya merasa terhormat untuk menyaksikan dan menilai penampilan mereka, karena dalam penampilan mereka karena dalam debat itu ada tiga unsur yang harus berkesinambungan, dari kecepatan dan kemudian dari sisi kebahasaan,” katanya.

Dijelaskan, Orang sudah lancar berbahasa inggris belum tentu memiliki pengetahuan yang cukup dalam tentang mosi yang di berikan tetapi dari setiap kelompok tadi mereka menunjukan bahwa mereka memiliki semua dan hampir semuanya dan rata – rata diatas 50 persen.

Yang membuat beda adalah dari sisi kepercayaan diri, untuk penampilan pertama di tonton dengan berbagai sporter tetapi mereka tetap mengatasinya dan beberapa bisa lolos masuk pada babak berikutnya.

“Saya cukup terkejut juga saat menilai putra-putri Ambon yang menunjukan skill mereka yang sangat luar biasa dan sangat potensial untuk dikembangkan,” ucapnya.

Dikatakannya, Potensi di Maluku sudah ada dan sudah berkembang dan alangkah baiknya lebih di kembangkan lagi. Festival seperti ini lebih diperbanyak lagi dan jangan hanya mengikuti lomba tetapi harus sudah punya target-target untuk mengikuti kompetisi antar daerah baik dan ke tingkat nasional dan bahkan ke tingkat Internasional untuk membanggakan bangsa Indonesia.

Dia menyarankan, beberapa tim sudah siap untuk berkompetisi dengan wakil-wakil dari daerah lain agar mereka tertantang dan terbuka wawasannya, sehingga lewat kesempatan itu kekurangan-kekurangan yang dimiliki dapat terasah dengan sendirinya.

“Jadi pemerintah perlu sekali mendukung Festival seperti ini dan membuka ruang dan membawa mereka keluar dari kota Ambon,” harapnya.

 

Sumber :

https://vhost.id/sejarah-singkat-walisongo/