Pemuda Dukung Gerakan Literasi Sekolah

Pemuda Dukung Gerakan Literasi Sekolah

Pemuda Dukung Gerakan Literasi Sekolah

Literasi lebih dari sekedar membaca dan menulis. Literasi juga mencakup bagaimana seseorang berkomunikasi dalam masyarakat.

Literasi juga bermakna praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa dan budaya.Ragam literasi terdiri dari keberaksaraan, melek atau keterpahaman, melek baca tulis, dan melek multiliterasi.

Demikian disampaikan oleh Lilis Latifah narasumber dalam kegiatan Seminar

Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang diselenggarakan oleh generasi muda Purwakarta sebagai salah satu rangkaian kegiatan Purwakarta Youth Festival di Bale Paseban Pendopo Kabupaten Purwakarta.

Lilis mengemukakan bahwa perlu strategi yang tegas dalam membangun budaya literasi.

“Kita mesti paham dulu bagaimana strategi membangun budaya literasi di sekolah. Paling tidak ada 3 strategi yang mesti disiapkan, yakni mengkondisikan lingkungan fisik ramah literasi, mengupayakan lingkungan sosial dan afektif serta mengupayakan sekolah sebagai lingkungan akademik yang literat,” tutur Lilis yang juga guru pada SMPN 1 Cicalengka Kabupaten Bandung ini di hadapan sekitar 80 orang guru dan kepala sekolah di Purwakarta.

Seminar GLS yang dimoderatori oleh Pipin Tresnawati dari Komunitas Purbasari (

Purwakarta membaca setiap hari) dan didukung oleh Forum Lingkar Pena (FLP) Kabupaten Purwakarta tersebut dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, Pariwisata dan Kebudayaan (Disporaparbud), Agus Hasan Saefudin.

Dalam sambutannya, H. Agus Hasan mengungkapkan bahwa Disporaparbud, khususnya melalui bidang Kepemudaan senantiasa mencoba memfasilitasi para pemuda untuk terus mengembangkan kreatifitas dan inovasinya.

“Saya berharap generasi muda Purwakarta dapat terus meningkatkan dan mengembangkan kreatifitas dan inovasinya. Kegiatan GLS yang diinisiasi bidang Kepemudaan ini merupakan terobosan sangat baik dalam membangun sinergitas antara dinas. Dan, anak-anak muda menjadi jembatannya. Ini sangat penting diapresiasi,” ujar mantan Camat Babakan Cikao tersebut.

Sementara itu, Ketua FLP Purwakarta Nur Asyah menjelaskan bahwa tujuan seminar GLS

tersebut untuk mengajak guru-guru agar dapat mengimplementasikan budaya literasi bagi peserta didiknya di sekolah maupun di lingkungan sekitar.

“Seminar GLS ini menjadi penting sekali untuk menjelaskan makna filosofi sekaligus strategi budaya literasi di sekolah. Bukan hanya peserta didik sasarannya, guru, orang tua dan masyarakat diharapkan memahami apa dan bagaimana literasi,” tutur Nur Asya dalam sambutannya.

Seminar GLS kali ini mengambil tema “Literasi Sebagai Identitas Bangsa di Era Digital”. Peserta yang terdiri dari para guru dan kepala sekolah itu tampak antusias mendengarkan paparan narasumber

 

Baca Juga :