Di Balik Manuver India, Tingkatkan Pengawasan Terhadap Google

Di Balik Manuver India, Tingkatkan Pengawasan Terhadap Google

Di Balik Manuver India, Tingkatkan Pengawasan Terhadap Google

Komisi anti monopoli India tengah menyelidiki tuduhan bahwa induk usaha Google

, Alphabet Inc telah menyalahgunakan sistem operasi mobile yang sangat popular, Android, untuk memblokir para pesaingnya. Sejumlah sumber dengan pengetahuan langsung mengenai masalah tersebut mengatakan kepada Reuters.

Kantor berita itu melaporkan bahwa, Komisi Persaingan India (CCI) selama enam bulan terakhir telah mengkaji kasus serupa dengan yang dihadapi Google di Eropa yang menyebabkan denda senilai 4,34 miliar euro ($ 5 miliar) oleh regulator anti monopoli Uni Eropa tahun lalu.

Komisi Eropa mendapati bahwa Google telah menyalahgunakan dominasi pasarnya sejak 2011

dengan praktik-praktik seperti memaksa produsen untuk melakukan pra-instal Google Search dan browser Chrome-nya, bersama-sama dengan Google Play store app pada perangkat Android.

“Kasus ini serupa dengan Uni Eropa, namun penyelidikan yang dilakukan oleh CCI baru pada tahap awal,” kata salah satu sumber, yang mengetahui penyelidikan CCI.

Google menolak berkomentar terhadap proses penyelidikan yang tengah berlangsung. CCI sendiri tidak menanggapi pertanyaan yang diajukan Reuters. Namun permintaan pengawasan atas tuduhan terhadap Google terkait dengan platform Android, belum pernah dilaporkan sebelumnya.

Eksekutif Google dalam beberapa bulan terakhir telah bertemu dengan pejabat anti monopoli

India setidaknya sekali untuk membahas keluhan, yang diajukan oleh sekelompok orang, salah satu sumber mengatakan.

Badan pengawas India dapat meminta unit investigasinya untuk menyelidiki lebih lanjut tuduhan terhadap Google, atau tidak menindaklanjuti pengaduan jika dinilai tidak layak. Seperti halnya di negara lain, investigasi pengawas secara historis membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menyelesaikannya.

Sebagai OS terpopuler, Android, digunakan oleh pembuat perangkat secara gratis. Tak tanggung-tanggung, fitur ini terdapat pada sekitar 85% populasi smartphone dunia.

 

Baca Juga :