Cinta kasih karena kebiasaan

Cinta kasih karena kebiasaan

Cinta kasih karena kebiasaan
Cinta kasih karena kebiasaan

Adalah cinta yang diperoleh berdasarkan tradisi masyarakat yang dibiasakan, seperti menikahkan anak-anak yang sebelumnya tidak saling kenal dan cinta tumbuh karena ikatan sudah ada.

Cinta kasih karena penglihatan
Adalah cinta yang tumbuh karena penglihatan, seperti kata pepatah :

Darimana datangnya linta

Dari sawah turun ke kali

Darimana datangnya cinta

Dari mata turun ke hati

Manusia sebagai makhluk social mempunyai kodrat terbaik pada suatu obyek yang dipandang indah, cantik, menarik, dan lain-lain.

Cinta kasih karena kepercayaan
Adalah cinta kasih yang lahir dari kepercayaan atau keyakinan. Hubungan untuk memadu cinta kasih biasanya diperlukan waktu yang cukup lama untuk saling menyelidiki karakter, dan saling memupuk cinta kasih.

Cinta kasih karena angan-angan
Adalah cinta yang lahir dari pengaruh angan-angan atau khayal saja, cinta yang penuh fantasi.

Menurut teori, cinta adalah sikap dasar untuk memperhatikan kepuasan dan ketentraman serta perkembangan orang yang kita cintai. Prakteknya, cinta berarti bersedia melepas kesenangan, mengabadikan waktu, bahkan mengorbankan ketentraman kita demi peningkatan kepuasan, ketentraman, dan perkembangan orang lain. Namun, menerangkan anatomi cinta sangat sulit.

Menurut Erich From, cinta merupakan tindakan aktif (bukan pasif). Berdiri di dalam cinta (bukan jatuh di dalamnya), memberi (bukan menerima). Sedang R.M. Rilke, cinta merupakan dorongan luhur bagi seseorang untuk menuju kematangan, untuk menjadi sesuatu dalam dirinya sendiri maupun orang lain. Kita akan coba sajikan beberapa unsur-unsur cinta.

Kasih Sayang
Menurut Mery Lutyens, bahwa kasih saying adalah factual, bukan sentimental yang mengandung emosional yang dapat ditangisi kepergiannya maupun kedatangannya. Memiliki kasih sayang berarti memiliki simpatik, ia bebas dari rasa takut, paksaan dan kewibawaan serta tindakan akal budi pada diri sendiri. Dalam kasih saying, sadar atau tidak sadar dari masing-masing pihak dituntut “tanggung jawab”, “pengorbanan”, “kejujuran”, “pengertian”, dan “keterbukaan” sehingga keduanya merupakan kesatuan yang bulat dan utuh.

Kemesraan
Menurut Suryadi, bahwa kemesraan berasal dari kata “mesra” yang artinya simpati yang akrab. Kemesraan adalah hubungan akrab antara setiap individu.

Belas Kasih
Belas kasih adalah hati yang iba dan rasa saying atau cinta kepada sesuatu atau seseorang. Arti lain yakni mengucapkan syukur, maksudnya merupakan pemberian itu menyentuh rasa kebutuhan seseorang yang diberi. Dalam menumpahkan belas kasihan, benar-benar harus keluar dari hati yang ikhlas, tidak terkandung unsure pamrih. Maksudnya, yang berbelas kasihan dapat merasakan penderitaan orang yang dibelas kasihi. Karena kita sekarang berada pada kemanusiaan dan kesadaran hokum yang menjadi nilai universal, maka setiap permasalahan harus didekati secara professional.

Pemujaan dan Pemujian
Pemujaan merupakan bentuk penghormatan seseorang kepada sesuatu yang tentu akan melahirkan pujian sebagai bentuk apresiasi bahkan boleh dikatakan sebagai bagian dari penghormatan itu sendiri. Di dalamnya, ada makna ketakjuban dan penghargaan atas segala kebaikan dan kelebihan.

Memanifestikan cinta banyak sekali ragamnya, salah satunya dengan melalui lambang. Lambang dalam hal ini merupakan sebuah bentuk media dalam mengungkapkan rasa cinta itu. Lambing dapat berupa bahasa, seperti cerita, pantun, syair, puisi, dan lain-lain. Dapat berupa gerak, seperti tari. Dapat berupa suara atau bunyi, seperti lagu dan musik. Dapat berupa warna dan rupa, seperti lukisan, hiasan, bangunan, dan lain-lain. Tapi perlu dipahami, lambang yang disebutkan di atas maupun jenis lambang yang lain bukan merupakan objek cinta (yang oerlu dicurahkan rasa cinta), akan tetapi lambang-lambang tersebut adalah jalan atau cara bahkan nerupakan media untuk mencintai.

Menuju Cinta yang Luhur
Dalam penjabaran sebelumnya, telah dibahasakan bahwa cinta memiliki berbagai tingkatan dan disebutkan bahwa tingkat pemahaman atau intelegensi dan tingkat keimanan dan ketakwaan memberi pengaruh yang hebat dalam pemaknaan akan cinta kasih. Cinta mesra kepada Allah Swt. adalah manifestasi kalimat tauhid yaitu meng-Esa-kan Allah dalam sifat, zat, dan perbuatan yang

dilafalkan oleh oleh umat islam dalam kalimat “LA ILAHA ILLALLAH” (tiada Tuhan selain Allah).

Al-Ghazaly memandang cinta kerinduan adalah cinta akan Allah, karena ihsan dan nikmat-Nya pada dirinya. Karena Allah telah menganugrahkan hidup, sehingga ia dapat menyebut nama-Nya. Cinta itulah cinta karena Allah (Jamal) dan kebesarannya (Jalal), yang kian hari kian terbuka untuknya. Maka itulah cinta yang setinggi-tingginya (Kamal). Dan itulah cinta yang timbul kepada Allah karena merenungi keindahan-Nya (Jamal Ul Rububiyah).

Ibraham bin Adham dalam syairnya

Semua makhluk telah aku tinggalkan

Karena cintaku kepada Engkau

Keluargaku aku biarkan jadi piatu

Agar dapat melihat wajah-Mu

Meskipun tubuh ini merana lantaran cinta

Akan dikerat dipotong-potong

Namun hati ini tidak akan berpaling

Kepada yang selain engkau

Cinta sejati adalah cinta karena Ilahi. Tulus, ikhlas, tanpa pamrih, dan lekang dimakan zaman dan ditempa cuaca. Cinta sejati juga tahan uji, tetep akan terkenang meski jasad tercerai dengan ruhnya. Bahwa cinta itu meminta pengorbanan, kesetiaan, dan kesabaran. Jangan mengaku cinta dan mengungkapkan cinta kalau tidak mau berkorban. “Anda dapa memberi tanpa mencintai, tetapi Anda tidak dapat mencintai tanpa memberi” (ungkapan asing).

Hazrat Inayah Khan menguraiakan cinta bahwa sifat cinta seperti air dalam tanah. Apabila tidak cukup menggali, yang anda akan peroleh air yang keruh. Apabila anda cukup menggali, yang akan anda peroleh adalah air yan bersih dan jernih. Sebaik-baiknya cinta adalah cinta pada yang menganugrahkan cinta itu sendiri. Cinta itu kepada Sang Pemberi segalanya. Manusia sebagai makhluk penikmat kesegalaan itu, sudah sepantasnya mencurahkan cintanya kepada-Nya. Cinta kita kepada Allah, membuat kita ingin semakin dekat dengan-Nya.

Saat Al-Qur’an yang merupakan Kalam Ilahi memerintahkan kita berislam secara kaffah (total) seperti dalam Q.S. Al-Baqarah : 208

                

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”

Maka kita wajib melaksanakan perintah-perintah-Nya itu. Berislam dengan sungguh-sungguh dan sempurna. Pemujaan adalah penghormatan kepada tuhan (Allah Swt) dan penghambaan diri kepada-Nya dengan penuh ikhlas dan sesuai dengan aturan yang telah digariskan. Kemudian dari pemujaan ini, lahir pemujian yaitu pernyatan takjub dan penghargaan atas segala kebaikan dan kelebihan.

Baca Juga :