900 Ribu Konten Hoax Berhasil Diblokir Kominfo Selama 2018

900 Ribu Konten Hoax Berhasil Diblokir Kominfo Selama 2018

900 Ribu Konten Hoax Berhasil Diblokir Kominfo Selama 2018

Konten berita palsu (Hoax) semakin marak beredar di kalangan masyarakat

. Apalagi di tahun politik 2019 ini, menjelang Pemilu Hoax semakin merajalela. Konten hoax jelas meresahkan bahkan menyesatkan yang membacanya.

Sejumlah pihak terus memerangi konten hoax dan negatif, khususnya Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kominfo).

“Kami memiliki 3 metode dalam mengatasi hoax yakni melalui pendeketan hukum, teknologi dan sosial kultur. Secara hukum, kami punya Undang-Undang dan regulasi yang mengatur konten negatif termasuk UU ITE. Dari teknologi kami punya mesin pengais (crawling) yang dapat mendeteksi konten negatif. Sedangkan sosial kultur, kami mengadakan kegiatan literasi digital dan memberikan informasi kepada masyarakat seputar hoax,” tutur Anthonius Malau, Kepala Subdirektorat Pengendalian Konten Internet Direktorat Pengendalian Aplikasi Informatika Kominfo di bilangan Thamrin, Jakarta, Kamis (28/2/2019).

Anthonius Malau, Kepala Subdirektorat Pengendalian Konten Internet

Direktorat Pengendalian Aplikasi Informatika Kominfo
Anthonius Malau, Kepala Subdirektorat Pengendalian Konten Internet Direktorat Pengendalian Aplikasi Informatika Kominfo

Menurut Anthon, melalui 3 metode tersebut, Kominfo berhasil mengurangi konten negatif termasuk hoax.

“Selama 2018, Kominfo berhasil memblokir situs berbau konten negatif termasuk hoax sekitar 900 ribu atau hampir sejuta. Untuk akun palsu sekitar 350 ribu yang berasal dari platfrom media sosial sudah kita hapus. Angka tersebut komulatif. Semuanya telah kami take down,” papar Anthon.

Di tahun 2019 ini, dikatakan Anthon, Kominfo menargetkan 120 ribu konten negatif dari sosial media dan website diblokir. Disampaikan Anthon, setiap harinya Kominfo menemukan minimal 10 situs hoax.

“Kemarin kita menemukan 12 situs hoax. Sebelum menentukan situs atau konten itu hoax,

Kominfo melakukan proses pengecekan untuk membuktikan bahwa itu adalah hoax. Harus ada data pembanding. Kita cek dulu sumber atau tautan dari website yang mengandung konten hoax tersebut,” ungkap Anthon.

Sebenarnya Anthon merasa kurang senang jika semua situs atau konten negatif di take down.

“Semakin banyak situs atau konten hoax yang diblokir, malah semakin banyak konten hoax yang beredar. Kita sedang mencari solusi lain agar tidak memblokir semua situs yang mengandung hoax. Kita ingin cari data pembandingnya, supaya masyarakat bisa membedakan mana hoax mana bukan,” ujarnya.

 

Sumber :

https://dunebuggyforsale.org/